| Subcribe via RSS

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Beradablah dalam Bertanya -Jawaban Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh- (PENTING!)

Jumat, 18 Januari 2013 | No Comments | Posted in


بسم الله الرحمن الرحيم

“Beradablah dalam Bertanya”
Jawaban Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh

Pertanyaan: Seseorang yang pada akidahnya ada penyimpangan dari petunjuk salafus-shalih, begitu pula pada akhlaknya kepada sesama, apa hukum membantunya ketika dia ditimpa musibah, menziarahi dan apakah tidak membantu orang ini dengan alasan dia memiliki penyimpangan dalam akidah bisa dibenarkan?

Jawab: Disini ada catatan umum seputar pertanyaan. Dan semoga saya bisa jabarkan masalah ini insyaAllah Ta’ala pada pelajaran umum dengan judul “Adab Bertanya”.

Banyak dari pertanyaan-pertanyaan disisi sipenanya memiliki gambaran tertentu, lalu dia bertanya dengan redaksi yang umum. Cara seperti ini tidak layak kalian bertanya kepada seorang ulama atau penuntut ilmu sedangkan dibenakmu situasi keadaannya bersifat khusus. Kemudian kamu merangkai pertanyaan dengan redaksi yang umum sedangkan yang kamu maukan suatu kondisi yang khusus. Cara seperti ini menjadikan yang ditanya (Syaikh/selainnya) dan dia tidak menyadari apa yang ada dibenakmu, menjawab dengan jawaban sesuai redaksi, sedangkan kamu memberlakukannya sesuai apa yang ada dibenakmu dari suatu realita tertentu. Cara seperti ini menjadi sebab timbulnya banyak musibah (fitnah).

Banyak dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada ulama di zaman sekarang dari pertanyaan yang sifatnya umum, lalu dijawab oleh si alim atau penuntut ilmu, kemudian sipenanya menjadikan jawaban tersebut sebagai dalil bagi kepentingan-kepentingannya. Ini bukan termasuk adab yang baik dalam bertanya. Melainkan penanya adalah seorang yang minta fatwa, minta petunjuk, tidak benar bagi dia bertanya untuk mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya. Karena sebuah pertanyaan pada dasarnya adalah untuk mendapatkan kebenaran ((Bertanyalah kepada ahli dzikr apabila kalian tidak mengetahui)) (An-Nahl: 43), (Al Anbiya’: 7). Adapun kamu sudah tahu atau kamu menyimpan sesuatu lalu bertanya agar jawaban sesuai kepentinganmu atau menguatkan pendapatmu, yang seperti ini bukan adab yang baik dalam bertanya.

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Tidak seorang pun selamat dari pembicaraan (kritik) maka, Tatsabbutlah (ceknricek)

| No Comments | Posted in


Siapa saja yang membaca biografi ulama dan sejarah mereka atau bahkan sejarah manusia seluruhnya tidak mendapati seorang pun yang menonjol kecuali orang-orang berselisih tentangnya. Maka tidakk seorang pun yang menonjol dari ummat ini kecuali diperbincangkan, sebagian memuliakan dan membelanya dan sebagian lainnya merendahkan dan mempersalahkannya.

Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah telah menyebutkan perkataan yang berharga lagi panjang berkenaan dengan hal ini ketika beliau membawakan biografi Al Husain bin Manshur Al Hallaj -semoga Allah membalasnya dengan balasan yang setimpal-, dan bahwasanya ada diantara manusia yang meyakininya sebagai seorang wali padahal ia diantara da'i yang mengajak kepada ilhad (kekufuran) dan zindiq, maka saya akan bawakan perkataan beliau lengkap mengingat pentingnya masalah ini.

((Tidaklah pantas bagi anda wahai faqih untuk tergesa-gesa mengkafirkan seorang muslim kecuali dengan bukti yang qath'i (jelas) sebagaimana tidak dibenarkan bagi anda untuk meyakini ke wali-an seseorang yang telah terbukti penyimpangannya dan tersingkap ke zindiq-kannya. Tidak ini dan tidak pula itu. Bahkan yang adil adalah bahwa seseorang yang dianggap oleh ummat Islam shalih, baik maka ia demikian. Karena ummat Islam adalah saksi-saksi Allah dimuka bumi, karena ummat ini tidak akan bersatu di atas kesesatan. Dan bahwa seseoran yang dianggap oleh ummat Islam jahat atau munafik atau pengekor kebatilan, maka ia demikian.

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

MENYIKAPI KESALAHAN DAN ORANG SALAH (JUGA ADA FIKIHNYA) -perhatikan lagi pendetilannya- (Asy-Syaikh Ubaid Al Jabiri)

| No Comments | Posted in


بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan: Fadhilatus-Syaikh, apakah ketika seseorang dari ulama besar salah, boleh atau dibenarkan bagi seorang pemuda untuk membantah kesalahannya? Atau (yang harus) membantahnya seorang ulama juga semisalnya? Dimana sebagian anak muda lancang menolak fatwa sebagian ulama yang mana fatwa itu terkadang sensitif menurut syariat, lalu sang ulama tersebut memfatwakannya karena darurat atau menurutnya ada hikmah dibaliknya –barakallahufikum-, apa pendapatmu dalam hal ini? Semoga Allah membalas kebaikanmu.

Jawaban: Segala puji bagi Allah Rab semesta alam, dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. (Dialah) penolong orang-orang shalih dan Rab orang-orang baik. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya, penghulu anak Adam seluruhnya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada beliau dan keluarganya serta para shahabatnya yang baik lagi suci sampai hari akhir. Amma ba’du:

Sesungguhnya apa yang kalian tanyakan, perlu dilihat dari dua sisi, sebagaimana perlu dilihat kepada siapa pemilik pendapat keliru tersebut dari dua sisi juga. Demikianlah Ahlussunnah, mereka melihat kepada (jenis) penyimpangan dan kepada (orang) yang menyimpang.

Adapun (jenis) penyimpangan, (ia) tidak keluar dari dua keadaan:

-          Apakah penyimpangan tersebut terjadi pada perkara yang bukan ranah ijtihad, apakah dalam perkara pokok agama atau cabang-cabangnya, seperti banyak terdapat dalil Al Qur’an dan Sunnah berkenaan dengannya dan disepakati oleh para imam (ijma’), atau telah dianggap seperti ijma’, dan ketika itu orang yang menyimpang (mukhalif) tidak ada padanya nas-nas yang menguatkan pendapatnya. 

-          Atau penyimpangan tersebut terjadi pada perkara yang merupakan ranah ijtihad, atau perkara yang nas-nasnya (dalil-dalil) muhtamal (memiliki banyak sudut pandang). 

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Fulan Hizbi, Fulan Salafy. Masalah ini Ijtihadi atau Bukan?

| No Comments | Posted in


بسم الله الرحمن الرحيم

 oleh: Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab Al Wushabi -hafidzahullah-

Apabila (ia) berselisih dengan seseorang dalam perkara ijtihadiyah seperti misalnya: Asy-Syaikh Abdurahman Al ‘Adani hizbi atau bukan?! Dia bilang orang ini hizbi! Dan syaikh-syaikh Ahlussunnah wal Jama’ah selain dia mengatakan: Bahkan beliau sunni dan bukan hizbi.

Lihatlah apa yang ia lakukan kepada syaikh-syaikh tersebut (yang menyelisihinya –pentj), ia membid’ah-bid’ahkan, mencap mereka sesat, fasik, memutus hubungan (qaathi’), memboikot (mereka) dan menyuruh murid-muridnya memboikot (mereka) dan membuat tulisan-tulisan dan kaset-kaset yang banyak (yang membelanya –pentj)

Kami katakan kepadanya: Wahai Anda, ini perkara ijtihadiyah bukan nashshiyyah (ada nash nya), tidak ada wahyu turun ke kita fulan hizbi! Anda berijtihad begini –diatas baik sangka- bahwa Anda mengatakan ini atas dasar ijtihad, kalau bukan karena hawa nafsu. Anggap, bahwa Anda berijtihad dan selain Anda berijtihad dan mengatakan: Dia bukan hizbi. Perkara-perkara ijtihadiyah tidak boleh menyesat-nyesatkan disini, (tidak boleh) membid’ah-bid’ahkan, menghizbikan, mencap fasik, penjahat, (yakni) bahwa mereka (syaikh-syaikh yang menyelisihimu –pentj) sebagai orang-orang fasik, membuat makar, pengkhianat…

Perkaranya ijtihadiyah, buka cakrawalamu. Orang ini telah membuat syari’at, ini adalah bid’ah yang buruk, yaitu memboikot, memutus hubungan, menjauh, tidak mengucapkan salam, tidak mau berbicara, meskipun bertahun-tahun, karena perkara ijtihadiyah.

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Apakah Lazim (konsekwensi/keharusan) Suatu Ucapan Dinilai Sebagai Ucapan? -kaidah berguna bagi penuntut ilmu- (4dibagikan)

| No Comments | Posted in


Ketahuilah bahwa lazim (konsekwensi/keharusan) dari perkataan Allah Ta’aala dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila sah/bisa dikatakan sebagai lazim,maka lazim itu adalah hak.
Hal itu karena perkataan Allah dan rasul-Nya adalah hak (kebenaran) dan lazim dari kebenaran adalah kebenaran. Dan karena Allah Ta’aala Maha Mengetahui lazim yang terkandung pada perkataan-Nya dan perkataan rasul-Nya. Maka lazim itu juga dimaukan.

Adapun lazim dari perkataan seseorang selain perkataan Allah dan rasul-Nya maka tidak lepas dari tiga keadaan:

Pertama: Diingatkan kepada siempunya ucapan (lazim dari ucapannya) dan ia pun berpegang dengannya.
Seperti orang yang menafikan sifat perbuatan yang berkata kepada orang yang menetapkannya: lazim dari perbuatanmu menetapkan sifat-sifat perbuatan (bagi Allah) bahwa ada dari perbuatan-Nya yang hadits(baru). Lalu orang yang menetapkan sifat perbuatan (bagi Allah) itu berkata: Ya, aku berpegang denganlazim itu, karena Allah senantiasa dan selalu berbuat apa yang dia kehendaki dan tidak pernah habis perkataan dan perbuatan-Nya. Seperti yang Allah firmankan: ((Katakanlah:"Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Qs. Al Kahfi: 109)

((Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana)). (QS. Luqman: 27)

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

CELAAN/ JARH ULAMA KIBAR DALAM PERKARA IJTIHAD

| No Comments | Posted in


 Ijtihad-ijtihad ulama besar kebanyakannya benar dan mencocoki petunjuk serta berakhir dengan hasil yang baik. Tapi terkadang ada pada ijtihad sebagian mereka suatu unsur berlebih-lebihan. Perhatikan contoh berikut.
Pertama: Ibnul Jauzi mengatakan seperti yang terdapat pada As-Siyar (11/322): Dari Abu Zur’ah Ar-Razi, ia berkata: “Dahulu Ahmad bin Hambal tidak berpendapat (bolehnya) menulis (hadits) dari Abu Nashr At-Tammar, begitu pula Yahya bin Ma’in dan tidak pula dari seorang pun yang diuji (pada fitnah khalqul qur’an) kemudian dia menjawab.”

Maimuni berkata: “Telah benar bagiku bahwa (Ahmad bin Hambal) tidak melayat Abu Nashr At-Tammar ketika wafat. Dan aku menyangka hal ini karena ia (At-Tammar) menjawab di masa fitnah...
Dan Hajjaj bin Asy-Sya’ir berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: Andaikan aku meriwayatkan dari seseorang dari orang-orang yang menjawab di masa fitnah tentu aku akan meriwayatkan dari Abu Ma’mar dan Abu Kuraib.”

Adz-Dzahabi mengatakan (11/87) pada biografi Yahya bin Ma’in dan menyebutkan perihal Ahmad bin Hambal yang tidak meriwayatkan darinya: “Ini merupakan perkara yang sempit, tidak ada dosa bagi mereka yang menjawab di masa fitnah, bahkan tidak pula atas orang yang dipaksa melakukan kekufuran yang jelas sebagaimana (dijelaskan) ayat (Al Qur’an). Inilah yang hak. Dan Yahya semasa hidupnya adalah termasuk imam-imam Sunnah, dia takut akan kekejaman penguasa, maka ia menjawab karena ingin selamat.”

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

KURANG PERHATIAN TERHADAP TAUHID DAN AKIDAH SEBAB PERPECAHAN

| No Comments | Posted in

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan


Pertanyaan: Kami dapati banyak orang yang berdakwah kepada tauhid di negeri-negeri Islam berpecah-belah dan terpecah menjadi jamaah-jamaah, padahal mereka berdakwah kepada tauhid, sedangkan akidah menyatukan tidak memecah belah. Apa pendapat anda wahai Syaikh?

Jawab: Aku tidak yakin bahwa (berita) ini benar. Orang yang berpecah-belah tidak mengajak kepada tauhid. Andaikan mereka lakukan itu (dakwah kepada tauhid) mereka tidak akan berpecah-belah. Akan tetapi mereka mengajak kepada pendapat-pendapat, kepada manhaj. Allah Ta’aala berkata: ((Setiap kelompok/hizb bangga dengan apa yang ada pada kelompoknya)) (Qs. Mu’minun: 53).

Andaikan mereka berdakwah kepada tauhid dengan dakwah yang benar, pasti mereka akan bersatu, beriringan: karena tauhidlah yang menyatukan orang-orang sebelum kita dan menyatukan kita dan orang-orang setelah kita. Melainkan kejahilan akan tauhid atau tidak memberikan perhatian yang layak terhadap tauhidlah yang menjadikan da’i-da’i berpecah-belah.


حيث طرح عليه سؤال : نجد كثيرًا ممن يدعون الناس إلى التوحيد في الدول الإسلامية يتفرقون وينقسمون إلى جماعات ، مع أنهم يدعون إلى التوحيد ، والعقيدة تجمع ولا تفرق ، فما رأي فضيلتكم ؟

فأجاب فضيلة الشيخ : لا أظن أن هذا صحيح ، فالمتفرقون لا يدعون إلى التوحيد ، ولو كانوا يفعلون ما تفرقوا ، لكنهم يدعون إلى أفكار ، وإلى مناهج ، وكل له منهج ، فقد قال الله تعالى : ﴿ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴾ [سورة المؤمنون : الآية 53] . ولو كانوا يدعون إلى التوحيد دعوة صحيحة لاجتمعوا وتآلفوا ؛ لأن التوحيد هو الذي ألف بين مَن قبلنا ، وهو يؤلفنا ، ويؤلف من بعدنا . إنما الجهل بالتوحيد ، أو عدم الاهتمام به هو الذي يفرق الدعاة .


Di ambil dari Catatan Ustadz Ja'far Salih

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Surat Terbuka Untuk Syaikh Robi’ bin Hadi

Rabu, 27 Oktober 2010 | No Comments | Posted in

Surat terbuka
untuk fadhilatus syaikh robi’ bin hadi
- semoga Allah meluruskannya -

…….

Oleh fadhilatus Syaikh Ali bin Hasan al-halaby
Semoga Allah menjaganya

.الحمدُ لله حقَّ حمدِه، والصَّلاةُ والسَّلامُ على نبيِّهِ وعبدِه، وعلى آلهِ وصحبِه ووَفْدِه
…السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاتُه
: أمَّا بعدُ
Pertama-tama aku ucapkan terimakasih pada anda -fadihlatus syaikh- atas hadiah (berharga) yang anda berikan padaku -tidaklah hadiah itu datang tanpa dinanti bahkan aku menantikannya!- seiring dengan dekatnya bulan ramadhan yang penuh berkah, demikian itu karena aku.. (Allah maha tahu atas diriku) membutuhkan kebaikan demi kebaikan, maka semoga Allah membalas perbuatan anda dengan kebaikan…
saya senang untuk membuat anda tenang, bahwa saya tetap memegang janji yang kujanjikan pada anda pada akhir pertemuan kita berkumpul di kediaman anda yang mulia di makkah mukarramah -dua tahun lalu- : (bunyi janji itu adalah) : (“aku tidak akan memusuhi anda sebagaimana orang lain selainku memusuhi anda, diantara kita ada ilmu”) -semoga Allah menjaga dan memberikan petunjuk pada langkah-langkah anda-…

sebagai tambahan saya beritahukan bahwa ucapan-ucapanku ini -dan yang semisalnya- yang sesuai dengan adab ilmu dan akhlak yang lembut -samasekali tidak bertentangan- dengan apa yang (kami nyatakan) di forum kami yang diberkahi (ini) yaitu berupa menutup pintu bantahan-bantahan yang terkesan emosional dan gelap mata! Atau terkesan sentimen dan semangat yang membara!

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Mengapa Saya Membela Syaikh Ali Hasan Hafidzahulah?

| No Comments | Posted in

Menyempurnakan makalah : Perkataan yang adil dan terpercaya tentang diskusi Syaikh Rabi’ di majlisnya dengan orang-orang Falestina. ( Bagian ke 2 ).

11. Berkata Syaikh Rabi’ : Ali Hasan dan yang semisalnya meminta Al-Abbad (Al-‘Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr -hafidzahulah-) untuk menyusun kitab : Berlemah lembutlah engkau wahai ahlu sunnah kepada ahlu sunnah.

Saya berkata  : Allah dan orang-orang yang bijaksana dari hamba – hamba Allah mengetahui bahwa  perkataan ini tidak memiliki dalil sama sekali, bahkan di hari itu akupun dikagetkan dengan munculnya kitab ini (Berlemah lembutlah engkau wahai ahlu sunnah kepada ahlu sunnah) dan saya tidak mengetahui sedikitpun tentang buku ini sebelum kemunculannya.

Bahkan aku menulis dalam majalahku Al-Asholah makalah  yang khusus berkaitan dengan kitab ini –ketika kemuculannya – saya mengkritiknya dalam beberapa poin walaupun saya sependapat dengan buku ini secara global, dan kita tidak hanya punya hitam putih saja

Maka saya tidak tahu – dan inilah keadaan saya – bagaimana saya dan orang yang semisal dengan saya dianggap termasuk diantara orang – orang yang meminta syaikh Al-Abbad untuk mengarang kitab ini ?

Dengan memberikan isyarat – di sini – bahwasanya risalah Fadhilah Ustadz Syaikh Al-Abbadmenunjukkan secara yakin bahwasanya beliau membaca, menelaah dan mengetahui bahkan beliau mengetahui sekali, tidak sebagaimana yang digembar-gemborkan dan disebarluaskan oleh orang banyak dan para pengikut mereka yang berbeda dengan kenyataan.

Perhatian !

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

JAWABAN SYAIKH ALI TERHADAP PERNYATAAN SYAIKH RABI

| 1 Comment | Posted in

JAWABAN AL-‘ALLAMAH ALI HASAN AL-HALABI TERHADAP PERNYATAAN  SYAIKH RABI ( BAGIAN PERTAMA ) .
Al-Qaul Al-Adli Al-Amin fi Mubahatsati As-Syaikh Rabi Fi Jalsatihi Ma’a Al-Filasthiniyyin : 1 (Perkataan yang adil dan terpercaya tentang diskusi Syaikh Rabi dengan orang-orang Falestina di majlisnya : 1).
Penulis : Ali Hasan Al-Halabi
.. (Aku Tidak akan memusihimu sebagaimana orang lain memusuhimu, antara diriku dan dirimu adalah ilmu) ..
Ini adalah kata-kata terakhir yang saya ucapkan  kepada Syaikh Rabi Bin Hadi – semoga Allah melindunginya – sebelum saya mengucapkan kata salam dan perpisahan – di waktu  terakhir saya bertemu dengannya di rumahnya di Mekah, di pertengahan bulan Ramadan  tahun (1429), dan hal ini adalah sesuatu yang saya sangat menjaganya sampai saat ini – dan saya meminta kepada Allah untukmembantu saya dalam hal ini.

Saya telah menyebutkan di artikel sebelumnya «Berlemah lembutlah kepada Syaikh Rabi – semoga Allah memberkati Anda -» apa yang wajib bagi kita – sebagai salafi – terhadap Syaikh Rabi – semoga Allah melindunginya -, dan yang wajib bagi kita adalah berlemah lembut dengannya, dan bersikap halus kepadanya – walaupun hal itu dalam membantah apa yang kita lihat dari kesalahan-kesalahannya – semoga Allah memberkatinya – karena dia adalah manusia diantara manusia , «membantah  dan dibantah».

Mungkin ini adalah yang pertama kali  saya akan menjelaskan di dalamnya – dengan penuh rasa hormat dan penghargaan – dalam menyanggahnya dan menjelaskan kebenaran beserta dalil dan bukti – yang secara jelas mengungkapkan - sebagian dari apa yang dikatakan oleh beliau kepada saya atau koreksiannya kepada saya dan hal itu berdasarkan dari apa yang disebutkan dalam (Majlis Mahasiswa Falestina), dan saya berusaha dengan sepenuh kekuatan untuk menjaga pena saya dengan adab ilmu,dan kekuatan argumen – secara bersamaan -.

Dan ini semua – bagi setiap orang yang arif – 
adalah hak yang syari’  yang mu’tabar .

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Nasehat Bagi Para Da’i Salafy

Selasa, 26 Oktober 2010 | 1 Comment | Posted in


Nasehat bagi para da’i salafy
Oleh : Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin
Diantara adab para dai yang wajib untuk mereka jalankan, adalah tolong menolong diantara mereka. Dan tidak selayaknya mereka berkeinginan agar ucapannya saja yang diterima dan harus didahulukan dari pada orang lain. Tapi semestinya keinginan seorang dai adalah agar dakwah (kebenaran), diterima baik lewat dirinya atau orang lain. Selama keinginan anda adalah tegaknya agama Allah (di muka bumi) maka jangan anda perdulikan darimana kebenaran itu kan menyebar, apakah dari anda atau yang lainnya.
Memang benar bahwa seseorang berkeinginan agar kebaikan itu berada ditangannya, tapi tidak boleh dia membenci kalau seandainya kebaikan itu juga ada ditangan orang lain. Yang wajib baginya adalah agar agama Allah tegak darimana saja datangnya. Jika seorang dai telah membangun pemikirannya di atas kaidah ini, maka dia akan membantu saudaranya dalam berdakwah di jalan Allah meskipun manusia lebih banyak condong kepada orang lain dari pada dirinya.
Yang wajib bagi para dai adalah bergotong-royong diantara mereka dan saling bermusyawarah, berpijak di atas satu pijakan dan berjuang karena Allah baik berdua-dua, atau bertiga atau berempat (QS. Saba’ : 46)
Jika kita telah melihat bahwa para dai penyesat bisa bersatu dan bahu-membahu, maka mengapa dai kebenaran tidak mengamalkan hal ini? Agar mereka bisa nasehat-menasehati kalau ada yang salah, baik dalam keilmuan maupun metode dakwah atau yang lainnya.

Browse > Home / Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

NASEHAT SYAIKH ABDUL MALIK BIN AHMAD RAMADHANI ALJAZAIRI BAGI SALAFIYYIN INDONESIA

Selasa, 10 Agustus 2010 | No Comments | Posted in

Berikut ini adalah nasihat Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani Aljazairi (beliau termasuk salah seorang ulama yang men-tahdzir yayasan Ihya’ at-Turats dan tidak menganjurkan untuk mengambil dana dari yayasan tersebut, serta dikenal sangat keras dalam membantah Sururiyyun), beliau berkata:[1]

“Saya katakan, tidak ada faidahnya bagi kalian untuk berselisih seputar persoalan yayasan ini. Hal ini dikarenakan sebab yang penting, yaitu adanya syubhat. Jika ada seseorang yang tertipu dengan yayasan, dan telah atau sedang merekomendasikan yayasan, dan bisa jadi bekerja bersama yayasan tersebut, maka kami tidak menasihati kalian –bahkan kami men-tahdzir kalian dari sikap meng-hajr orang tersebut atau kalian berselisih denganya pada permasalahan tersebut. Dia memiliki pendapat yang ia tidak bersendirian dengan pendapat tersebut. Ia mengikuti pendapat orang lain. Kecuali jika kita mengetahui (dengan pasti-pen.) bahwa ia adalah shaahibul hawa (pengikut hawa nafsu, ahli bid’ah). Saya berbicara tentang orang yang kalian ketahui memiliki ‘aqidah yang lurus, cinta kepada agama ini, cinta kepada Sunnah, menyebarkan Sunnah dan membelanya. Dia mencintai hal tersebut. Namun ia merekomendasikan yayasan karena apa yang tampak padanya dari tazkiyah para Syaikh terhadap yayasan, atau apa yang nampak padanya berupa kebaikan-kebaikan yayasan, dan tidak mengetahui kejelekan-kejelekan yayasan, atau yang semisal hal ini. Maka tidak ada faidahnya kalian berselisih, dan tidak ada faidahnya kalian saling meng-hajr.